Senin, 05 Desember 2011

istri untuk putraku..

Novel berjudul “ Istri Untuk Putraku “ menceritakan tentang kehidupan seorang gadis bernama Fatiha. Dia dipaksa kawin oleh orang tuanya dengan lelaki yang tak dikenalnya. Pada suatu hari Fatiha tengah berada didalam taksi melintasi kota. Ia merasa seperti dikendalikan oleh kekuatan yang tak dikenal. Seperti orang berjalan sambil tidur yang tak menghiraukan keinginan dan harapannya sendiri. Pada saat itu Fatiha masih berusia sangat muda. Ia dapaksa kawin dengan lelaki yang belum ia kenal sebelumnya. Lelaki itu bernama Husein. Dia adalah anak sulung dari keluarga Amor. Husein adalah seorang pekerja bangunan di Paris yang usianya jauh lebih tua dari Fatiha. Semenjak upacara pernikahannya, Fatiha hanya diam. Dia sebenarnya tidak ingin menikah karena ia masih ingin meneruskan sekolahnya hingga menjadi seorang guru. Pada saat itu banyak yang mencoba menghibur Fatiha. Namun, ia tetap saja larut dalam kesedihannya. Fatiha adalah gadis yang lugu dan sederhana. Ia tidak ingin muncul dihadapan suaminya untuk pertama kali dangan didandani ala pengantin. Hourie, ibi Fatiha merasa heran melihat anak gadisnya yang biasanya lincah dan ceria tetapi disaat pernikahannya justru menjadi seorang pendiam. Sebenarnya Fatiha belum siap untuk menjadi seorang istri. Namun, ia tak ingin mengecewakan kedua orang tuanya. Kesedihan Fatiha saat itu disebabkan karena ia tidak suka kawin dengan cara seperti itu. Ia tidak mau hidup seprti ibu-ibu yang hanya terkurung di rumah. Ia ingin bekerja. Menurutnya keputusan orang tuanya untuk menikahkannya adalah sebuah keputusan yang seperti zaman kuno. Pada saat pesta perkawinannya, Nyonya Suissi guru Fatiha datang ke acara itu. Mereka saling memandang dan mengenang. Sebetulya Nyonya Suissi tau isi hati Fatiha. Ia tau bahwa sebenarnya Fatiha masih ingin sekolah dan menjadi guru seperti dirinya. Namun, ia tak dapat berbuat apa-apa untuk Fatiha. Sesuai dengan tradisi, Husein sebagai calon suami Fatiha memaki jubah putih melapisi pakaiannya. Sementara Fatiha tengah menantinya di kamar. Kemudian Husein memasuki kamar Fatiha dan sejenak berdiri di depan pintu dan memandang Fatiha. Namun, Fatiha hanya menunduk hampir-hampir tidak melihat suaminya. Di malam itu Husein membuat Fatiha menjadi seorang wanita dengan cara merenggut keperawanan Fatiha. Fatiha berusaha melepaskan diri namun tak bisa. Gadis itu tak mempunya hasrat terhadap Husein dan begitu pula sebaliknya. Semenjak ditinggalkan oleh kedua orangtuanya di keluarga Husein. Fatiha tetap saja terdiam. Pada saat malam pertamanya ia tinggal di keluarga Husein. Ia justru sendiri di kamarnya. Husein sebagai suaminya justru pergi bersama teman-temannya untuk bersenang-senang sambil minum bir. Dan Fatiha tidak suka dengan alkohol. Di keluarganya alkohol nerarti ketidakbahagiaan dan kehancuran. Selama tinggal di rumah suaminya Fatiha tak sedikitpun merasakan kebahagiaan. Setiap hari ia hanya berada di lingkungan sekitar rumah. Kegiatan yang dilakukannya sehari-hari hanyalah memasak, membereskan rumah, menyiram tanaman, dan istirahat. Ia bahkan tak pernah keluar rumah. Sebab, ia harus mengenakan cadar yang amat dibencinya bila ia ingin keluar rumah. Seiring dengan berjalannya waktu, akhirnya Fatiha mulai mengenal keluarga Husein. Namun, ia tetap bersifat dingin terhadap Husein. Pada suatu hari Husein mengajak Fatiha untuk membeli sepatu. Sebelumnya Husein menginginkan agar Fatiha mengenakan cadar pemberian ibunya. Tetapi Fatiha menolak mengenakan cadar itu. Huseinpun marah dan memaksa Fatiha untuk tetap mengenakan cadar. Lalu akhirnya Fatiha mau mengenakan cadar itu, dan mereka pergi ke toko untuk membeli sepatu. Suatu hari ketika Fatiha sedang membuat kue di dapur datanglah Aisyah mertuanya dan bertanya apakah Fatiha sudah datang bulan ataukah belum. Mendengar pertanyaan itu Fatiha marah dan berkata pada mertuanya dengan nada keras bahwa hal itu adalah urusan pribadinya. Disaat itu pula Husein mendengar perkataan Fatiha terhadap ibunya dan ia menampar Fatiha hingga Fatiha menangis. Padahal Husein tidak tau apa permasalahan di antara Fatiha dan ibunya. Setelah mengetahui bahwa istrinya sedang mengandung, Husein berubah sifat. Ia tidak sekasar sewaktu ia belum mengetahui kehamilan istrinya. Pada suatu ketika Husein berkeliling kota Aljazair untuk mencari pekerjaan. Namun, tak satupun pekerjaan yang ia dapat. Akhirnya ia memutuskan untuk kembali ke Paris melanjutkan pekerjaannya sebagai pekerja bangunan. Mendengar bahwa suaminya akan kembali ke Paris, Fatihapun meminta kepada Huseia agar ia dapat ikut ke Paris. Namun Husein melarangnya untuk ikut bersamanya. Sebab saat itu Fatiha sedang hamil dan kehidupan di Paris sungguh tidak menjanjikan bagi Fatiha. Pada suatu pagi ahirnya Husein berangkat ke Paris. Fatiha sebagai seorang istri menangis melihat sang suami pergi meninggalkan dirinya bersama keluarga yang masih asing baginya. Semenjak kepergian suaminya ke Paris Fatiha hanya sering menyendiri di kamar. Akan tetapi, semakin lama ia semakin akrab dengan Alloua dan Nerine. Mereka berdua adalah adik kandung Husein. Pada suatu malam ketika sedang tidur tiba-tiba perut Fatiha terasa sakit. Sehingga pada pagi harinya ia harus dibawa ke bidan untuk pemeriksaan. Menurut bidan yang memeriksa kandungan Fatiha, kondisi Fatiha dan bayi dalam kandungannya baik-baik saja. Namun, Aisyah menginginkan agar Fatiha benar-benar sembuh. Sehingga pada ahirnya Fatiha harus opname selama beberapa hari di rumah sakit. Selam di rumah sakit ada 4 orang yang sering datang mengunjungi Fatiha dan berbincana-bincang bersama Fatiha. Mereka adalah Leila, Zahra, Fatouma, dan Noura. Yang dimana mereka sama-sama pasien di rumah sakit tempat Fatiha dirawat. Dengan adanya keempat pasien tersebut Fatiha tidak merasakan kebosanan di rumah sakit dan ia dapat melupaka semua permasalahan yang menimpanya. Selama masa kehamilannya Fatiha begitu tak memperhatikan kondisi kandungannya. Ia masih sering melakukan aktivitas sehingga pada suatu hari ia kembali jatuh sakit. Dan pada saat ia di rawat di rumah sakit ternyata ia melahirka seorang bayi perempuan. Dan di beri nama Noura. Fatiha sangat menyayangi buah hatinya tersebut. Namun, tidak untuk Husein dan ayahnya. Mereka justru menginginkan Fatiha dan anaknya untuk pergi dari rumah mereka. Sebab, mereka hanya menginginkan seorang bayi laki-laki dari Fatiha. Pada akhirnya Fatiha bersama anaknya pergi meninggalkan rumah Husein dan mertuanya. Dan tinggallah ia bersama orang tua kandungnya dengan di temani sang anak yang amat disayanginya.




KOMENTAR

Isi dan tema dari novel berjudul “ Istri Untuk Putraku “ ini mudah di pahami. Dimana tema dari novel ini adalah kehidupan. Terutama kehidupan berumah tangga. Amanat yang terkandung dalam novel ini adalah bahwa kita tidak boleh memaksakan kehendak kepada seseorang apabila seseorang tersebut benar-benar tidak sanggup dan apabila kita ingin membangun sebuah kehidupan baru dengan seseorang sebelumnya kita harus saling mengenal secara mendalam agar kita tidak terjerumus ke dalam sebuah ketidakcocokan yang akan membuat kita tidak bahagia. Sedangkan, gaya bahasa yang digunakan oleh penulis menggunakan gaya bahasa dengan penuturan yang mudah dimengerti oleh para pembaca.


Tidak ada komentar:

Posting Komentar